Di musim hujan seperti ini, ragam penyakit seperti flu bisa menyerang
dengan mudah terutama pada anak-anak. Ini adalah salah satu infeksi
yang menyerang saluran napas atas. Demam atau suhu badan meninggi adalah
gejala umum yang bisa kita temui.
Untuk mengobatinya, para orangtua kerap memanfaatkan obat yang
mengandung zat penurun panas, parasetamol. Namun, hati-hatilah saat
menggunakannya.
Sebuah penelitian
dipublikasikan dalam jurnal Toxicological Science, menemukan bahwa
parasetamol bisa mengganggu perkembangan otak anak. Bahkan, obat jenis
ini bisa berbahaya bagi anak-anak yang belum lahir atau yang masih ada
di kandungan.
Para ilmuwan di Universitas Uppsala, Swedia membuktikan kenyataan
ini. Mereka meneliti penggunaan parasetamol sebagai salah satu obat yang
paling sering digunakan untuk mengobati nyeri dan demam pada anak-anak.
Dengan dosis yang rendah ilmuwan-ilmuwan ini mencobakan obat ini pada
tikus di usia 10 hari. Peneliti kemudian melakukan uji coba terhadap
perilaku tikus saat sudah dewasa. Hasilnya, tikus menjadi hiperaktif dan
bisa menunjukkan adanya gangguan pada perilaku.
Selain itu, pemeriksaan pada otak tikus membuktikan lebih rendahnya
daya ingat tikus yang sudah diberi parasetamol dibanding tikus yang tak
diberi parasetamol. Para peneliti menyebutkan, penggunaan parasetamol
pada tikus muda (saat otak sedang berkembang) bisa menyebabkan efek
jangka panjang yang buruk pada fungsi kognitif.
Karena itu, para ilmuwan mengingatkan agar para orangtua berhati-hati
pada penggunaan parasetamol untuk anak-anak. Lantas kapan, pemberian
antidemam atau antipiretik seperti parasetamol disebut aman. Menurut
para ilmuwan, pemberian yang aman adalah saat demam atau suhu badan
sudah mencapai 38 derajat celsius. Beberapa efek samping obat
antipiretik yang sering muncul harus diketahui seperti mual, muntah,
sakit perut, kesulitan bernapas, dan sakit kepala.
Penggunaan antipiretik, menurut para dokter, harus dibatasi hanya
untuk mengurangi gejala dan membantu agar demam tak naik ke tingkat yang
berbahaya. Sebagian besar kerap menggunakan antipiretik meski demam
belum parah atau sekadar mencegah demam agar tidak berulang meski
sebenarnya tak ada bukti yang menunjukkan bahwa antipiretik dapat
mencegah berulangnya demam.(pilihdokter.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar